Ini Pesan Penting untuk Kepala Sekolah Muhammadiyah

w750_h400px__1469599968JAKARTA — Kepala sekolah Muhammadiyah se-Indonesia diminta untuk bekerja lebih kreatif dan produktif dalam memajukan amal usaha pendidikan Persyarikatan. Ini agar sekolah Muhammadiyah memiliki keunggulan daya saing dalam hal kualitas dan kwantitas.

“Kepala sekolah itu pada dasarnya dia bukan guru ya! Kepala sekolah itu manager!” tegas Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Muhadjir Effendy kepada Muhammadiyah.or.id, di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, pekan kemarin.

Ia mengatakan, kepala sekolah Muhammadiyah diharapkan tidak hanya sekedar mengajar seperti guru biasa, namun juga harus memikirkan pembangunan fisik dan non fisik sekolah. “Kepala sekolah itu jangan terus mengajar,” tuturnya.

Kepala sekolah Muhammadiyah, menurut Muhadjir, harus kreatif dalam hal fundraising. Yakni kepala sekolah diharapkan bisa mencari dana-dana dari luar lingkungan sekolah. Sebab, kata dia, pencarian dana ini sangat penting bagi pembangunan sekolah. Ia menilai, dana pembangunan tidak juga harus membebankan kepada orang tua siswa.

“Itu harus selalu di dalam pikiran seorang manager. Karena tidak mungkin, mengembangkan sekolah dari segi finansial itu, mengandalkan semuanya dari sumbangan orang tua,” katanya.

Karena itu, tambah Muhadjir, kepala sekolah Muhammadiyah harus punya upaya untuk mencari alternatif fundraising. Jika fundraising berjalan dengan baik, hal itu akan berpengaruh pada kemajuan pembangunan sekolah.

Dalam kesempatan ini, Muhadjir pun menjelaskan, kepala sekolah Muhammadiyah harus selalu mendorong gurunya meningkatkan kapasitas diri. Guru, terang dia, tidak sekedar mengalihkan atau menyalurkan pengetahuan saja (transfer knowledge), tapi dia juga harus memiliki keteladanan sebagai sosok yang diteladani oleh siswa.

Dan hal yang terpenting, menurut Muhadjir, kepala sekolah harus mampu menanamkan rasa kebanggaan kepada siswanya menjadi siswa Muhammadiyah. “Itu yang harus dipompakan betul,” katanya.

Dikatakan Muhadjir, jangan sampai para siswa kehilangan gairah dan kepercayaan diri sebagai siswa di sekolah Muhammadiyah. “Apalagi kalau sekolah Muhammadiyah itu bukan sekolah favorit,” ujarnya.

Soal ini pun, untuk memperkuat kepercayaan diri dari siswa yang telah ditolak dari beberapa sekolah dan mendaftar ke sekolah Muhammadiyah.

“Itu penting sekali untuk membangkitkan kepercayaan diri. Jangan sampai dia merasa masuk sekolah buangan,” katanya.

Sekolah Muhammadiyah, menurut Muhadjir, adalah sekolah yang lebih mengedepankan pada pembinaan moral dan pembinaan akhlak.  Konsep inilah yang harus dipahami kepala sekolah Muhammadiyah.

“Moral itu sumber utamanya dari keteladanan. Berarti ada orang yang memiliki nilai signifikan bagi murid-muridnya, guru!”

Kepala sekolah Muhammadiyah, kata mantan rektor UMM ini, harus memiliki perhitungan yang baik juga terkait calon-calon siswanya. Sebab, menurutnya, calon siswa yang akan sekolah di sekolah Muhammadiyah itu akan mempengaruhi terhadap nilai sekolah itu sendiri.

Yakni, terang Muhadjir, kepala sekolah, idealnya sudah mengetahui berasal dari mana saja calon siswa-siswanya itu, terutama calon siswa sekolah menengah pertama atau atas. Kepala sekolah, katanya, jangan sampai pasif menunggu calon siswanya mendaftar ke sekolah. “Jadi tidak bisa hanya menunggu,” ucapnya.

Sekolah Muhammadiyah, dalam hal ini, kata dia, harus memiliki standar nilai beda untuk calon siswanya. Namun, untuk mengundang calon siswa yang berkualitas, sekolah Muhammadiyah pun harus punya nilai beda, baik dari segi akademik ataupun non akademik.

Minimal, menurut Muhadjir, sekolah Muhammadiyah ada satu keunggulan yang selalu ditunjukkan kepada masyarakat. Jika satu keunggulan ini dimiliki, maka, hal itulah yang menjadi nilai lebih bagi sekolah Muhammadiyah untuk terus mencerdaskan bangsa.

 

0