Tentang Ciri Islam Berkemajuan, Ini Menurut Din Syamsuddin

13707711_1749928085294780_4083795899670378355_n

Prof. Din Syamsuddin mengatakan, dalam beragama, setiap orang terkadang kehilangan subtansi atau esensi. Seperti menjalankan ibadah yang hanya sekedar kegiatan, namun esensi ibadahnya sering dilupakan.

Dalam pelaksanaan ibadah, menurut Din, ada dimensi ta’abbud. Ta’abbud inilah yang sering hilang. Karena, kata dia, seseorang hanya terjebak pada aktivitas yang nyaris rutin dilakukan. Sehingga, keagamaan itu, jelasnya, hanya sekedar rutinitas.

“Esensi, hakikat, yang bernama ta’abbud sesungguhnya transformasi diri, karena yang melakukan ibadah itu hamba,” ujar Din dalam acara Silaturrahim Idul Fitri 1437 H, di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin (18/7).

Jika ibadah berhenti pada aktivitas belaka, tanpa esensi, Din menerangkan, hal itu akan menjadi hampa. “Ini kemudian banyak membawa orang-orang beragama terlibat pada pelanggaran hukum dan menjadi musuh dari Polri,” kata Din di hadapan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan warga Muhammadiyah yang hadir di acara tersebut.

Apabila ada esensi, substansi ta’abbud, lanjut Din, seorang hamba yang mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Allah, maka seseorang itu telah melakukan transformasi diri. Ini bermakna keberagamaan yang maju dan dinamis.

“Itulah Islam yang berkemajuan dan sesuai paham Muhammadiyah,” jelasnya.

Din pun mencontohkan kembali, silaturrahim yang digelar di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta ini, akan menjadi hampa jika esensinya hilang. “Tarohum adalah esensi dari silaturrahim,” ujarnya. Yakni hidupnya aktivitas saling menyayangi dan mencintai. “Ini yang harus kita kembangkan.”

Karena itu, Din mengajak, agar umat Islam beragama dengan menekankan pada esensi-hakikat. “Idul fitri adalah awal masa kita untuk menjelmakan ibadah ramadhan pada pasca Ramadhan. Inilah ciri Islam berkemajuan,” katanya.

Sumber : muhammadiyah.or.id

Editor : Akhlanudin

0